Postingan

Tips Memilih Pondok Pesantren (Sekolah lanjutan)

Tanpa terasa kita sudah berada di penghujung tahun saja ya :).  pasti adik-adik kelas 6 SD, 9 SMP, dan kelas XII sudah mulai sibuk dong mencari sekolah lanjutan. benar kan ya? kebanyakan adik-adik biasanya memilih sekolah itu karena apa sih? sebagian besar ternyata menjawab, "Karena ikut teman". :) sebagian lagi menjawab, "Disuruh orangtua atau dipilihkan orangtua". Saran kami, alangkah baiknya sebelum menentukan pilihan kepada satu sekolah agar diteliti terlebih dahulu ya. karena lingkungan sekolah (yang dipilih) akan besar pengaruhnya terhadap perkembangan kognitif, afektif, dan juga psikomotor adik-adik. Ada kejadian lucu. begini kisahnya. sebut saja seorang anak namanya Adi. ya, Adi dibesarkan di lingkungan keluarga yang hidup 'ala NU; yasinan, tahlilan, tawassulan, barzanjiyan, salawatan, tabarrukan, ziarahan, qunut subuhm dsb. Adi, disekolahkan ayahnya di sekolah yang berseberangan paham dengan keluarganya. alhasil, ketika liburan terjadilah apa yang yang

Resep Sukses Belajar

  Ibarat makanan, agar lezat, ada banyak resep yang bisa dicoba. Ibarat menuju suatu kota A, ada banyak jalan yang bisa ditempuh atau mungkin pula dengan rute yang berbeda-beda dan tetap satu tujuan yaitu kota A tersebut. Demikian pula dengan belajar. Tentu semua santri/ pelajar pasti ingin sukses dalam proses belajarnya. Juara di kelas tiap semester, lulus dengan nilai tertinggi, lalu masuk perguruan tinggi negeri pavorit. Begitu bukan? Kali ini pemerhati milenial mencoba berbagi sedikit bagaimana agar sukses dalam menuntut ilmu. Sebelum itu, penting kita bahas dahulu, kenapa sih banyak yang gagal dalam proses menuntut ilmu??? kenapa hanya sangat sedikit yang berhasil dalam proses menuntut ilmu??? apa yang salah ??? sebagai contoh, berapa banyak santri lulusan pondok pesantren tiap tahunnya? berapa yang hafal Al-Qur'an? sedikit bukan? berapa yang mengamalkan agamanya setelah lulus? sedikit... Pertama, persoalan niat belajar. Niat yang tidak ikhlas, terutama misalnya santri yang mo

Didatangi Kakek Tua

Gambar

BelajaR MC berpantuN

 Contoh 1; TEKS MC Talkshow بسم الله الرحمن الرحيم. الحمد لله رب العالمين و الصلاة و السلام على أشرف الأنبياء و المرسلين و على اله و صحبه اجمعين...اما بعد Assalamualaikum warohmah. Anak raja diputus cinta Cinta diputus dukun bicara Disangka peserta orang tua Ternyata muda mudi gagah perkasa Memancing ikan di danau toba Ikan didapat gulai dimasak Ini talkshow bukan sembarang acara Temanya Quran dan kurikulum personal anak Jalan jalan ke rumah katun Katun di beli-baju dipakai Bukannya mc kehabisan pantun Khawatir acara tak kunjung mulai   Yang kami hormati, pemateri kita yang luar biasa, hadir di tengah kita, bapak lukman hakim, pendekarnya non formal edu, praktisi pendidikan lebih dari 20 tahun, studi magister jurusan PLS. Yang kami hormati, ustad m Iqbal vicry, pendekarnya pendidikan boarding school, lebih dari 15 tahun pengalaman, bicara kurikulum integrasi diniyah dan keterampilan beliau jagonya. Yang kami banggakan, bapak ibu hadirin peserta talksho

Problem lembaga pendidikan

  Lembaga pendidikan di Indonesia terdiri dari tiga kelompok besar, yaitu formal, non formal dan informal. Lembaga formal hampir mendominasi seluruh aspek pendidikan sekolah di Indonesia. Mulai kurikulum, administrasi, ekstrakurikuler, keterampilan, dan sebagainya. Lembaga formal dengan cirinya; semua serba teratur, terstruktur, dan sistemastis. Misalnya, terdapat jenjang pendidikan yang terstruktur mulai pendidikan dasar, menengah dan tinggi. Lembaganya mulai dari TK, PAUD, SD, SMP/ MTs/ SMA/ MAN/ SMK, dan PT/ Universitas. Pembelajarannya cenderung dilakukan di kelas. Kurikulumnya sudah baku dari kementerian pendidikan. Siswa cenderung dianggap sebagai sasaran objek yang harus dipintarkan, objek yang harus diperbaiki moralitasnya, dan sederet intervensi pembelajaran lainnya, serta Orang tua tidak terlibat aktif dalam proses penyusunan kurikulum atau pembelajaran. Bahkan, sebagian lembaga formal hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu. Pembelajaran cenderung monoton dan satu ar

GURUKU, JAGA LISANMU

  Di dalam Al Quran [Surat Al - Ahzab ayat 70] Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk melakukan dua hal utama, bertaqwa dan berkata benar atau jujur. Ayat ini menunjukkan bahwa iman itu tidak hanya bersemayam di dalam dada, melainkan terejawantahkan dalam amal anggota badan dan lisan. Ini juga merupakan bukti bahwa Islam bukanlah agama yang hanya mengurusi hubungan dengan Tuhan, tetapi juga dengan sesama manusia. Seorang yang beriman akan selalu menjaga lisannya karena   ia yakin Allah selalu mengawasi setiap ucapan dan perbuatannya, Allah Maha Mengetahui yang ia sembunyikan maupun yang ia tampakkan. Pernyataan tersebut senada dengan sabda Nabi; “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangga, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamu” [Riwayat Al Bukhori]. Ibarat mata koin, iman dan amal keduanya tidak bisa d

PELEBUR DOSA

Gambar
  PELEBUR DOSA Manusia adalah makhluk Allah yang paling kompleks dengan segala keunikan penciptaan dan kejadiannya. Ia dikaruniai akal yang dengannya manusia berpotensi sejajar bahkan mengungguli malaikat serta dekat dengan rahmat ilahi. Di sisi lain, ia juga dilengkapi dengan nafsu-syahwat yang condong kepada keburukan dan jauh dari rahmat Allah. Sebagai mahkluk yang uniqe tersebut Allah mengirim para utusanNya kepada mereka untuk menjelaskan ayat dan hukumNya sehingga mereka tetap berada dalam rel yang Allah ridhoi. Faktanya adalah sejak para utusan ini dikirim di tengah manusia, sebagian besar menolak bahkan membunuh utusan tersebut. Sebagian pula beriman, taat, dan patuh. Tidak dapat dipungkiri bahwa, pengingkaran terhadap utusan tersebut tiada lain karena dorongan nafsu dan syahwat yang membutakan setiap pemiliknya. Nafsu ibarat bayi yang menyusu. Apabila tidak disapih pada masanya, dia akan terus menyusu. Demikian pula dengan nafsu tersebut. Maka, bukan hal yang mencengangk